Garda Srikandi Malahayati Gelar Kanvas 50 Meter untuk Melawan Judol, Pinjol, dan Investasi Bodong.
Jakarta Selatan, 31 Mei 2026 — Judi online, pinjaman online ilegal, dan investasi bodong menjadi wajah baru persoalan sosial yang diam-diam menggerus masa depan banyak anak muda Indonesia.
Di tengah situasi tersebut, Ormas Garda Srikandi Malahayati memilih cara yang berbeda untuk menyuarakan kepedulian. Menjelang Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, organisasi ini menggelar kegiatan “Pendar Daya Negeri – Melukis di Atas Kanvas 50 Meter”, sebuah gerakan kolaboratif yang memadukan seni rupa, sastra, musik, dan edukasi sosial sebagai bentuk perlawanan terhadap maraknya praktik digital ilegal yang merugikan masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan 50 peserta dari berbagai kelompok usia dan latar belakang, yang bersama-sama menuangkan gagasan mereka di atas kanvas sepanjang 50 meter. Kanvas tersebut menjadi simbol perjalanan panjang bangsa Indonesia, sementara setiap goresan warna menjadi representasi suara masyarakat yang ingin menjaga masa depan negeri dari ancaman yang menggerus nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan sosial. Acara ini juga diikuti oleh peserta anak-anak sekolah dasar dan menengah, sebagai bukti bahwa anak-anak adalah golongan urgensi yang kerap menjadi dampak negatif tak langsung dari transkasi keuangan ilegal yang jarang diperhatikan.

Selain aksi melukis kolaboratif, kegiatan ini juga menghadirkan pameran seni rupa yang menampilkan karya para seniman sebagai ruang refleksi publik. Seluruh karya yang ditampilkan akan dinilai oleh dua seniman Indonesia, Amien Kamil, Masto Sidharta dan Candra Haris Tambunan. Penilaian dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya mempertimbangkan aspek estetika, tetapi juga kekuatan gagasan dan pesan sosial yang terkandung di dalamnya.

Perwakilan dewan juri, Amien Kamil, menilai bahwa seni memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah persoalan masyarakat.
“Sebuah karya tidak hanya dinilai dari keindahan visualnya. Yang lebih penting adalah bagaimana karya tersebut mampu menyampaikan kegelisahan, harapan, dan kesadaran kepada publik. Seni harus berani berbicara tentang persoalan yang sedang dihadapi bangsa dan menjadi ruang dialog bagi masyarakat.”

Juri lainnya; Candra Haris Tambunan dan Masto Sidharta, menambahkan bahwa seni juga memiliki fungsi penting sebagai ruang pemulihan dan penguatan mental masyarakat.
“Ekspresi yang terpendam bukan hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga kesehatan seseorang. Melalui seni, masyarakat memiliki ruang untuk mengeluarkan emosi, mengolah pengalaman, dan membangun kembali daya juang yang mungkin sempat melemah.”

Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya tekanan yang dihadapi generasi muda. Ketika ruang dialog semakin sempit dan arus informasi bergerak terlalu cepat, seni dapat menjadi medium yang mempertemukan refleksi, kesadaran, dan harapan.
Ketua Umum Garda Srikandi Malahayati, Ahmad Sharoji, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata upaya membumikan nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
“Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus dihidupkan dalam tindakan. Melalui seni, gotong royong, dan ruang ekspresi publik, kami ingin mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap praktik-praktik digital ilegal yang merusak moral, ekonomi, dan masa depan generasi muda. Pendar Daya Negeri adalah ruang edukasi sekaligus ruang kepedulian sosial untuk menjaga akal sehat, harapan, dan masa depan bangsa.”

Rangkaian acara juga dimeriahkan oleh penampilan deklamasi kolaboratif Bangzhai, Deklamator Indonesia, bersama Irfan Vln, violinis Indonesia. Perpaduan sastra dan musik tersebut dihadirkan sebagai ruang refleksi yang mengajak masyarakat kembali mengingat nilai kemanusiaan, persatuan, dan kepedulian sosial. Penampilan spesial juga dibawakan oleh Orkes Trotoar, yang selama ini dikenal membawa semangat kerakyatan melalui musik dan pertunjukan jalanan.

Melalui kegiatan ini, Garda Srikandi Malahayati membawa tiga pesan utama: meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan teknologi digital, menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai kompas moral dalam menghadapi perkembangan zaman, serta memperingati Hari Lahir Pancasila melalui aksi nyata yang melibatkan partisipasi publik.

Lebih dari sekadar festival melukis, Pendar Daya Negeri menjadi pengingat bahwa melawan ancaman digital tidak selalu harus dilakukan melalui kampanye formal atau regulasi semata. Kesadaran dapat tumbuh dari ruang-ruang kreatif yang dekat dengan masyarakat, tempat di mana pesan disampaikan dengan cara yang lebih membumi dan mudah dipahami.
“Banyak teman sebaya saya yang pernah terpapar iklan judi online atau tawaran pinjaman instan di media sosial. Melalui kegiatan ini, kami bisa menyampaikan keresahan itu dengan cara yang positif. Saya merasa seni bisa menjadi bahasa yang lebih mudah diterima untuk mengingatkan sesama anak muda agar tidak terjebak dalam praktik-praktik yang merugikan.” - Ujar salah satu peserta di kegiatan ini.

Karena pada akhirnya, melawan judi online, pinjaman ilegal, dan berbagai bentuk penipuan digital bukan hanya soal menyelamatkan ekonomi. Ini adalah upaya menjaga harapan, martabat, dan masa depan Indonesia.