Memuat tanggal...
Logo
Bukan Lagi Menikmati Seni, Wisatawan di Museum Eropa Kini Berburu Foto untuk Media Sosial
Lifestyle 20 June 2026, 16:57 WIB Shaddam Putra

Bukan Lagi Menikmati Seni, Wisatawan di Museum Eropa Kini Berburu Foto untuk Media Sosial

Museum-museum ternama di Eropa sedang menghadapi masalah yang semakin serius, yakni pengunjung yang memadati ruang pameran demi berfoto dan membuat konten media sosial. Fenomena ini seringkali mengorbankan pengalaman menikmati karya seni itu sendiri.

Sumber: The New York Times

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan yang datang ke museum-museum ikonik seperti Louvre Museum dan Uffizi Galleries terus meningkat. Namun, semakin banyak pengunjung yang datang bukan untuk mengagumi karya seni secara langsung, melainkan untuk mengabadikan momen di depan karya-karya terkenal demi unggahan di media sosial.

Salah satu insiden yang memicu perdebatan terjadi di Florence, Italia. Seorang wisatawan dilaporkan mundur sambil berpose untuk foto dan tanpa sengaja menabrak sebuah lukisan bersejarah di Uffizi. Museum tersebut menyebut karya seni itu mengalami kerusakan ringan dan harus dipulihkan.

Kasus lain terjadi di Verona ketika seorang pengunjung merusak kursi seni yang dihiasi kristal setelah mencoba berpose untuk foto saat petugas tidak berada di dekat lokasi. Peristiwa-peristiwa semacam ini semakin sering terjadi dan membuat pengelola museum mempertanyakan batas antara akses publik dan perlindungan koleksi

Direktur Uffizi bahkan menyebut fenomena pengunjung yang datang hanya untuk membuat meme atau selfie sebagai masalah yang sudah sangat besar. Museum tersebut berencana menerapkan pembatasan yang lebih ketat terhadap aktivitas foto demi menjaga warisan budaya yang mereka miliki.

Menurut para ahli pariwisata, terjadi perubahan perilaku wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu orang datang ke museum untuk melihat karya seni secara langsung. Kini, banyak wisatawan memiliki daftar selfie berisi karya seni atau lokasi yang harus difoto sebagai bukti bahwa mereka pernah berada di sana. Akibatnya, banyak pengunjung lebih fokus pada layar ponsel daripada karya seni yang ada di hadapan mereka. Di beberapa museum populer, antrean panjang bahkan terbentuk hanya untuk mengambil foto di depan satu karya terkenal, sementara karya lain di sekitarnya nyaris tidak diperhatikan.

Fenomena ini sebenarnya relevan bagi Indonesia yang juga memiliki banyak destinasi budaya dan sejarah populer, seperti Candi Borobudur, Museum Nasional Indonesia, dan berbagai museum daerah lainnya. Media sosial memang membantu mempromosikan destinasi wisata dan meningkatkan minat masyarakat terhadap budaya. Namun tanpa pengelolaan yang baik, dorongan untuk menciptakan konten dapat berujung pada kerusakan situs bersejarah atau mengurangi kualitas pengalaman pengunjung lain.

Sumber: The Straits Times

Tags: #Budaya

Bagikan Artikel: