Memuat tanggal...
Logo
WMO Peringatkan Gelombang Panas Ekstrem Eropa Akan Makin Sering Terjadi
News 30 June 2026, 14:43 WIB Shaddam Putra

WMO Peringatkan Gelombang Panas Ekstrem Eropa Akan Makin Sering Terjadi

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memasuki babak baru dengan memecahkan berbagai rekor suhu di sejumlah negara. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar fenomena cuaca sesaat, melainkan sinyal kuat bahwa dunia harus bersiap menghadapi gelombang panas yang semakin sering, semakin intens, dan berdampak luas akibat perubahan iklim.

Sumber: WMO

Dalam laporan terbarunya, WMO menyebut suhu ekstrem telah memengaruhi hampir seluruh kawasan Eropa Barat, Tengah, hingga Selatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kesehatan masyarakat, tetapi juga merusak ekosistem, mengganggu sektor pertanian, menekan produktivitas tenaga kerja, membebani infrastruktur, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan. Di beberapa wilayah, gelombang panas bahkan disertai badai lokal yang semakin memperparah kondisi.

WMO menjelaskan bahwa suhu tinggi yang terjadi saat ini dipicu oleh kombinasi kubah panas (heat dome) dan pemanasan global akibat aktivitas manusia. Kondisi tersebut membuat udara panas terperangkap selama berhari-hari, sementara malam hari tetap hangat sehingga tubuh manusia kesulitan mendinginkan diri. Organisasi itu menegaskan bahwa pada dekade-dekade mendatang, kejadian serupa akan menjadi lebih umum jika emisi gas rumah kaca tidak ditahan.

Dampak kemanusiaannya pun sangat besar. Lebih dari 1.300 kematian terkait suhu ekstrem telah tercatat di Eropa sejak 21 Juni. Korban terbanyak berasal dari kelompok lanjut usia dan masyarakat rentan yang mengalami tekanan panas berkepanjangan.

Sejumlah negara mencatat suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Polandia memecahkan rekor nasional dengan suhu mencapai 40,5 derajat Celsius. Jerman, Prancis, Spanyol dan beberapa negara Balkan juga mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius. Pemerintah di berbagai negara mengantisipasi situasi ini dengan mengeluarkan peringatan merah, membuka pusat pendinginan, membatasi aktivitas luar ruangan hingga mengantisipasi lonjakan konsumsi listrik.

Selain mengancam kesehatan, gelombang panas menyebabkan rel kereta melengkung, jalan raya rusak akibat suhu tinggi, kebakaran hutan meluas, serta mengganggu sistem energi karena meningkatnya penggunaan pendingin ruangan. Para ilmuwan menilai infrastruktur Eropa yang dibangun untuk iklim lebih sejuk kini semakin sulit menghadapi cuaca ekstrem yang terus meningkat.

Meski Indonesia berada di wilayah tropis dan tidak mengalami gelombang panas seperti Eropa, BMKG menilai peristiwa tersebut tetap menjadi peringatan penting. Dalam kajiannya, BMKG menjelaskan bahwa Indonesia memiliki karakter iklim berbeda sehingga kecil kemungkinan mengalami heatwave seperti di kawasan subtropis.

Namun, perubahan iklim tetap berpotensi meningkatkan suhu udara, memperpanjang musim kemarau, memperburuk kekeringan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta memperbesar ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap suhu ekstrem, memperluas ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, dan terus mengembangkan strategi adaptasi perubahan iklim agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan.

Sumber: World Meteorological Organization, BMKG

Bagikan Artikel: