Dari Guardiola ke Pirlo, Maldini Ungkap Kekacauan 17 Harinya di Timnas Italia
Paolo Maldini ternyata belum selesai dengan cerita singkatnya bersama tim nasional Italia. Setelah hanya 17 hari menjabat sebagai technical director Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), legenda AC Milan itu akhirnya buka suara mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik pengunduran dirinya.
Dalam wawancara dengan Corriere della Sera yang dikutip Football Italia, Maldini menyebut kepergiannya bukan karena dirinya tiba-tiba berubah pikiran. Menurutnya, kesepakatan yang menjadi dasar penunjukannya telah berubah, terutama soal kewenangan memilih pelatih baru Italia.
Maldini mengatakan bahwa sejak awal ia sudah menanyakan satu hal penting kepada Giovanni Malagò, yakni siapa yang nantinya memiliki kewenangan memilih pelatih timnas. Jawaban yang diterimanya ketika itu cukup jelas: Maldini yang memilih pelatih, sementara Malagò akan memberikan persetujuan.
Masalah muncul ketika proses pencarian pelatih berjalan. Maldini awalnya mencoba mendekati sejumlah nama besar. Salah satunya Carlo Ancelotti. Namun, pelatih asal Italia tersebut mengatakan bahwa Brasil kembali memberikan kepercayaan kepadanya sehingga ia memilih bertahan dengan proyek tersebut.
Nama berikutnya bahkan jauh lebih mengejutkan, yakni Pep Guardiola. Maldini mengungkapkan bahwa Guardiola ternyata benar-benar sempat mempertimbangkan tawaran untuk melatih Italia. Keduanya bahkan bertemu di Barcelona, berbicara selama berjam-jam, dan membahas pemain-pemain Italia dari level U-17 hingga tim senior. Yang menarik, Guardiola disebut sudah begitu serius mempertimbangkan pekerjaan tersebut sampai mulai mencoret-coret rancangan formasi di atas kertas.
Maldini juga membantah kabar bahwa Guardiola meminta gaji fantastis sebesar 20 juta euro per musim. Menurutnya, persoalan uang bukanlah alasan Guardiola akhirnya menolak tawaran tersebut.
Guardiola, kata Maldini, justru sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah menjalani sekitar satu dekade yang sangat melelahkan di Premier League. Faktor kelelahan dan kondisi fisiknya akhirnya membuat rencana tersebut tidak berlanjut.
Setelah Guardiola dan Ancelotti gagal didapatkan, Maldini kemudian mengarahkan perhatian kepada pelatih yang lebih muda. Salah satu pilihannya adalah Andrea Pirlo. Dua nama lain yang sempat masuk dalam daftar adalah Daniele De Rossi dan Fabio Grosso, yang seperti Pirlo juga merupakan bagian dari generasi juara Piala Dunia 2006.
Namun, situasi kembali menjadi rumit. Maldini mengatakan ada kesepakatan yang membuat mereka tidak bisa mengambil pelatih yang sedang menangani klub Serie A. Karena waktu yang semakin sempit, pilihan akhirnya mengerucut kepada Pirlo.
Maldini mengakui dirinya memang dekat dengan Pirlo. Tetapi ia menegaskan bahwa hubungan pribadi bukan alasan utama di balik pilihan tersebut. Menurutnya, Pirlo dianggap cocok dengan proyek yang ingin dibangun: pelatih muda, memiliki pengalaman di level tinggi, dan memahami sepak bola Italia.
Masalah berikutnya datang dari hubungan Pirlo dengan perusahaan taruhan asal Rusia. Maldini mengakui persoalan tersebut ikut memengaruhi situasi, terutama karena tekanan opini publik. Namun, menurutnya, secara hukum sebenarnya tidak ada hal yang otomatis menghalangi Pirlo menjadi pelatih Italia.
Kemudian datang momen yang membuat semuanya berakhir.
Maldini mengklaim Malagò menelepon dirinya dan Leonardo untuk mengatakan bahwa mulai saat itu keputusan mengenai pelatih berada di tangan Malagò. Dengan kata lain, kewenangan yang sebelumnya dijanjikan kepada Maldini berubah.
Bagi Maldini, perubahan tersebut tidak bisa diterima. Ia dan Leonardo kemudian membutuhkan waktu sekitar 24 jam sebelum akhirnya mengajukan pengunduran diri. Kontrak empat tahun yang seharusnya mulai berlaku pada 1 Agustus pun akhirnya tidak pernah mereka jalankan.
Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah bahwa Maldini sejak awal memang tidak datang hanya untuk memperbaiki tim nasional Italia. Ia ingin melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Menurut Maldini, membangun kembali sepak bola Italia membutuhkan waktu sekitar delapan sampai 10 tahun. Fokusnya bukan sekadar mencari pelatih baru atau memenangkan beberapa pertandingan, melainkan memperbaiki sistem pembinaan pemain, mengubah pendekatan sepak bola usia muda, dan membuat seluruh struktur sepak bola Italia bekerja dalam arah yang sama.
Rencananya mencakup Serie A, Serie B, Serie C, sepak bola amatir, asosiasi pelatih, pemain, wasit, hingga berbagai tim nasional dan cabang sepak bola lainnya. Ia juga ingin mengembangkan gaya bermain yang lebih menyerang dan memberikan perhatian lebih besar kepada kemampuan teknik pemain muda.
Maldini sadar proyek seperti itu tidak bisa menghasilkan keajaiban dalam semalam. Italia, menurutnya, harus mampu membangun sistem untuk masa depan sambil tetap mempersiapkan tim nasional menghadapi pertandingan-pertandingan terdekat.
Karena itu, ia merasa kecewa ketika proyek tersebut berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai. Maldini bahkan mengaku masih membawa kekhawatiran karena proyek tersebut sebenarnya merupakan salah satu impian besarnya. Ia ingin meninggalkan sesuatu bagi generasi berikutnya dan membantu Italia kembali memiliki tim yang kompetitif.
Ia kemudian mengambil contoh dari pengaruh Johan Cruyff terhadap sepak bola Spanyol. Menurut Maldini, perubahan besar membutuhkan waktu dan sering kali tidak langsung mendapatkan dukungan. Namun, fondasi yang dibangun dalam jangka panjang bisa menghasilkan generasi pemain berkualitas bertahun-tahun kemudian.
Pada akhirnya, kisah 17 hari Maldini di FIGC terasa seperti proyek besar yang kandas sebelum sempat berjalan. Italia memang membutuhkan hasil cepat, tetapi Maldini datang dengan gagasan yang jauh lebih panjang: membongkar sistem, memperbaiki pembinaan, lalu membangun kembali identitas sepak bola Italia dari bawah.
Dan mungkin justru di situlah letak persoalannya. Maldini ingin membangun rumah dari fondasi, sementara sepak bola Italia juga sedang dituntut segera memiliki atap yang tidak bocor. Perbedaan cara melihat masalah itulah yang akhirnya membuat salah satu legenda terbesar Italia pergi bahkan sebelum kontraknya resmi dimulai.
Artikel Terkait
Isack Hadjar Absen di GP Belanda, Liam Lawson Dapat Kesempatan Kedua di Red Bull
1 month ago
Dokumenter Bongkar Sisi Lain Pep Guardiola di Tahun-Tahun Terakhirnya Bersama Man City
1 month ago
Russell Westbrook Pensiun dari NBA, Sang Raja Triple-Double Akhirnya Gantung Sepatu
1 month ago