Memuat tanggal...
Logo
Mengapa Erick Thohir Membela Gianni Infantino di Tengah Penolakan Dunia Sepak Bola?
Sport 31 July 2026, 22:16 WIB Shaddam Putra

Mengapa Erick Thohir Membela Gianni Infantino di Tengah Penolakan Dunia Sepak Bola?

Ada perbedaan besar antara mendukung FIFA dan mendukung setiap keputusan presidennya. Perbedaan itu tampaknya mulai kabur ketika Ketua Umum PSSI Erick Thohir memutuskan memberikan dukungan kepada rencana Gianni Infantino untuk membuka kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta, justru ketika penolakan terhadap gagasan tersebut semakin meluas di dunia sepak bola.

Sumber: Kemenpora

FIFA tidak sedang berada di ambang kebangkrutan. Piala Dunia sudah menjadi salah satu properti olahraga paling menguntungkan di dunia, menghasilkan miliaran dolar dari hak siar, sponsor, lisensi, dan pemasaran global. Selama hampir satu abad, turnamen tersebut dibangun sebagai simbol tertinggi sepak bola internasional, di mana negara-negara besar maupun kecil memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi. Nilainya lahir dari legitimasi olahraga, bukan dari potensi keuntungan bagi pemegang modal.

Begitu investor swasta masuk ke dalam aset komersial sebesar Piala Dunia, orientasi bisnis akan ikut masuk bersamanya. Investor tidak menanamkan modal demi romantisme sepak bola. Mereka mengharapkan pertumbuhan nilai investasi dan keuntungan yang terus meningkat. Logika itu hampir selalu mendorong satu hal: lebih banyak pertandingan, lebih banyak konten, lebih banyak hak komersial dan lebih banyak cara untuk menghasilkan uang.

Sepak bola sebenarnya sudah merasakan dampak dari logika tersebut. Kalender pertandingan terus membengkak. Jumlah pertandingan semakin bertambah, beban fisik pemain semakin meningkat, harga tiket terus naik, hak siar menjadi semakin mahal. Hampir setiap perubahan besar dalam sepak bola modern memiliki satu benang merah yang sama, yakni dorongan untuk memaksimalkan pendapatan.

Karena itulah banyak federasi dan konfederasi memandang proposal Infantino sebagai langkah yang berpotensi mengikis kesakralan nilai-nilai yang membuat sepak bola berbeda dari sekadar industri hiburan. Kekhawatiran mereka bukan bahwa sepak bola akan berhenti menghasilkan uang. Justru sebaliknya, sepak bola dikhawatirkan akan terlalu didikte oleh uang.

Dalam konteks itu, dukungan Erick Thohir terasa janggal. Indonesia adalah negara yang sering berbicara mengenai pentingnya menjaga integritas sepak bola, memperbaiki tata kelola dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap olahraga ini. Namun, ketika muncul perdebatan yang menyangkut masa depan kompetisi paling prestisius di dunia, suara yang keluar justru adalah sebuah dukungan terhadap proposal yang masih dipenuhi tanda tanya.

Tidak ada yang salah dengan menjaga hubungan baik dengan FIFA. Indonesia membutuhkan FIFA, sama seperti FIFA membutuhkan anggotanya. Namun hubungan yang sehat tidak dibangun melalui persetujuan tanpa syarat. Organisasi yang kuat justru lahir dari anggota-anggota yang berani mengajukan pertanyaan sulit ketika sebuah kebijakan berpotensi mengubah arah organisasi itu sendiri.

Sampai hari ini, belum ada jawaban yang benar-benar memuaskan mengenai batas pengaruh investor terhadap aset komersial Piala Dunia. Belum jelas bagaimana FIFA akan memastikan bahwa kepentingan pemodal tidak perlahan mempengaruhi keputusan strategis. Belum ada jaminan bahwa tuntutan keuntungan tidak akan mendorong ekspansi kompetisi yang semakin membebani pemain dan federasi. Bahkan belum ada penjelasan mengapa model bisnis FIFA yang selama ini sudah sangat menguntungkan masih dianggap belum cukup.

Dukungan terhadap proposal seperti ini seharusnya lahir setelah semua pertanyaan tersebut terjawab, bukan sebelumnya. Tanpa penjelasan yang transparan, dukungan lebih mudah dibaca sebagai bentuk loyalitas kepada kepemimpinan Gianni Infantino daripada sebagai sikap yang benar-benar mempertimbangkan kepentingan sepak bola global.

Sepak bola memang membutuhkan pemasukan, tidak ada yang menyangkal itu. Namun, ada garis yang seharusnya tidak boleh dilewati. Ketika aset paling berharga dalam olahraga ini mulai diperlakukan sebagai instrumen investasi, yang adalah siapa yang pada akhirnya akan menentukan masa depan Piala Dunia; komunitas sepak bola atau pasar modal.

Erick Thohir berhak memiliki pandangan yang berbeda dari pemimpin federasi lain. Namun, ketika semakin banyak suara di dunia sepak bola meminta FIFA untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya, pilihan untuk langsung memberikan dukungan terasa sebagai langkah yang tergesa-gesa. Dalam isu sebesar ini, seorang pemimpin federasi semestinya tidak hanya bertanya apa yang baik bagi hubungan dengan FIFA hari ini, tetapi juga apa yang akan diwariskan kepada sepak bola sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Karena begitu nilai-nilai dasar sebuah olahraga mulai dikompromikan demi kepentingan komersial, akan sulit untuk mengembalikan integritas sepak bola sebagai olahraga yang sportif dan mengayomi semua.

Bagikan Artikel: